Monday, 14 January 2013

Ratapan Seorang Pecinta

Waktu terus beranjak seperti hantu yang melayang di lembah yang gelap. Namun ia merasa seperti tahanan yang terkekang jeruji besi, tanpa harapan. Dan walau pernah mendobrak dinding-dinding penjara itu, maka tidaklah membuatnya berhasil, sebab hanya lewat tatapan matanya saja.
Disinilah bermula. Saat perasaan makin kacau, yang membuat sendi-sendi kehidupan menjadi lemah, maka datanglah kekuatan yang mematahkan belenggu jiwa. Ia adalah kunci-kunci penutup rahasia pikiran, yang dengan cintalah ia tersampaikan.
Lalu dengan pena tergoreslah kalimat di atas secarik kertas.
Wahai kekasihku.
Aku menuliskan ini untuk menjadi saksi keindahan cinta. Dengan bertaut rangkaiannya, maka ku hadirkan rasa yang menyelimuti hati saat ini. Yang dengannya maka jadilah engkau seperti anak yang menyenangi permainan dan makanan lezat.
Kekasihku.
Orang yang berduka akan menganggap ratapan adalah kesenangan seorang pecinta. Ia bagaikan seorang anak kecil yang tengah menemukan hiburannya. Dan dengan itu pula ia menghibur diri dalam gairah jiwanya, lalu menambahkannya dengan doa yang tulus kehadirat Sang Maha Kuasa.
Untuk itu, dengarkanlah ungkapanku ini. Sebuah rasa yang kuharap engkau akan menangis untuk diriku yang malang ini. Sebab, tangisanmu itu akan menjadi doa yang tulus, karena cinta lebih utama dari ungkapan yang syahdu.
Ya. Airmata cinta akan lahir dari kedalam hati yang jujur. Ia seperti makhluk bernyawa yang memiliki perasaan yang lembut namun bijak dalam keadaan. Tidak pernah ia lari dari sikap ini, lantaran baginya itulah sebenarnya keindahan dan kebahagiaan.
Duhai kekasihku.
Dalam diam, pernahkah engkau berharap bisa melapisi kehormatanmu dengan kehormatan yang lebih tinggi sebagai penolak kenistaan zaman? Karena aku terus bersama mimpi yang kumiliki, walau terkadang menjadi korban yang dipersembahkan oleh waktu dunia.
Apakah engkau pernah mencibir kemunafikkan dunia, dengan melangkah di dalam garis syariat yang sesungguhnya? Sebab, di baliknya akan ada altar yang indah yang tidak bisa diukur nilainya. Sementara dirimu adalah sang penguasa.
O.. kekasihku sayang.
Aku tak meragui kehormatan yang engkau miliki, atau kesucian hatimu yang ku yakin senantiasa terjaga dari zina. Tapi yang menjadi keprihatinanku adalah sikap munafikmu dalam melakoni kehidupan ini. Sungguh aku meragukan harkat dan kesucianmu dalam urusan ini, lantaran terbukti dari cara berpakaian dan tindakan zahirmu yang menyimpang dari-Nya, padahal engkau tahu itu keliru.
Aku pun berulangkali merasakan kegundahan, lantaran engkau tetap bersikeras dengan semua kekufuranmu. Engkau diberikan wajah dan tubuh yang menawan, tapi sayang dipamerkan kepada khalayak ramai. Dan mengapa engkau tidak mencintai kebaikan dirimu dengan tulus, dengan hanya akan memberikan tubuhmu setelah pernikahan?
Ya kekasihku.
Janganlah engkau berdalih bahwa semua yang kau lakukan adalah demi kebebasan. Sebab, kebebasan itu bukan dalam artian semaunya saja. Ia tetap harus dalam koridor yang jelas dan benar adanya. Karena jika tidak, maka itu akan mengatarkan diri hingga ke derajat seekor binatang liar. Engkau pun akan semakin jauh dari hakekat cinta. Lantaran di dalam hatimu sebenarnya terus merasakan kesedihan.
Untuk itu hai kekasihku sayang.
Jadikanlah dirimu bahkan sebagai martir bagi kebenaran. Tetapkan jiwamu sebagai kesatria yang terus berjuang dalam menolak kekeliruan peradaban kini. Sebab, janganlah engkau menjadi korban dari kebodohan, dengan terus menjadi sosok penyembah dunia.
Sehingga kasihanilah aku dan sayangilah kisah cinta kita. Karena aku yakin engkau bisa berubah, lantaran cinta pernah menghinggapi hatimu.
Dari seorang yang mengagumi dan menunggumu.

No comments: