Thursday, 18 July 2013

Melawan Ego dengan Menjadi Rendah Hati




Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani
Dari buku Melawan Ego


Bismillah hirRohman nirRohim

Menghormati semua orang adalah tugas kita, ini adalah
ajaran agama kita. Jalan Sufisme yang sejati
memerintahkan kita untuk menghormati semua orang.
Seseorang bisa saja tidak peduli dalam jalannya atau
mempunyai karakter yang buruk dan brutal dan bisa jadi
akan menyerangmu. Tetapi kalian tidak perlu untuk
turun ke tingkatannya dan berkelahi dengannya.

Syaikh Sa'adi Syirazi , seorang penyair Sufi bercerita
dalam suatu kisah. Suatu ketika ada seseorang yang
digigit seekor anjing. Dia tidak bisa tidur semalaman
karena kesakitan. Anaknya bertanya apa yang telah
menimpa dirinya. Dia berkata “Hari ini seekor anjing
menggigitku,” anak itu kemudian bertanya, “Mengapa
engkau tidak menggigitnya kembali?”. Syaikh menjawab,
“Oh anakku, aku bisa saja menahan sakitku, tetapi aku
tidak akan menjadi anjing seperti anjing itu.”

Ketika kita menerima dan menyadari bahwa ego kita
bagaikan binatang buas, maka kalian tidak akan marah
dengan siapa pun. Itu adalah kerendahan hati dan
merupakan dasar bagi pembangunan karakter yang baik.
Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani bercerita
mengenai Grandsyaikhnya Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri
yang merupakan seorang Wali Kutub selama 40 tahun.

Tak seorang pun dapat meraih derajat kewalian sebelum
mencapai derajat manusia yang sangat rendah hati. Hal
ini maksudnya adalah dengan menolak segala jabatan
untuknya. Syaikh tidak mempunyai apapun didalam
hatinya, bagaikan bumi di bawah telapak kaki semua
orang. Jika tidak ada bumi, maka tak seorang pun bisa
berdiri.

Wali membawa semua orang. Syaikh Abu Ahmad pernah
berkata mengenai egonya, “Jika para pengikutku
danorang-orang desa mengenalku seperti aku mengenali
diriku ini, maka mereka niscaya tidak akan mengizinkan
aku tinggal bersama mereka, bahkan mereka akan
melempariku dengan batu dan mengusirku.” Begitu rendah
hatinya Syaikh Abu Ahmad Sughuri, beliau
melihat dirinya sebagai seorang yang mempunyai ego
terburuk, dan berpikir, “Allah menjaga egoku, tetapi
tetap saja egoku yang terburuk.” Beliau memandang
derajat tinggi yang disandangnya hanya berasal dari
Allah swt semata, bukan dari dirinya sendiri.

Sahabat Nabi sallallahu alaihi wasalam, Abu Bakar
ash-Shiddiq ra mempunyai derajat tertinggi di antara
semua ummat setelah Rasulullah saw. Beliau adalah
orang yang paling benar dan jujur dalam iman dan
keyakinannya. Rasulullah bersabda, “Jika iman seluruh
ummatku ditimbang dengan imannya Abu Bakar , maka
imannya Abu Bakar akan lebih berat.” Tetapi Abu Bakar
berkata kepada dirinya, “Wahai Shiddiq yang tidak
patuh, dalam pandanganku, apapun yang mereka katakan,
kamu harus bertaubat dan memohon ampun.”

Dimana ketika kita ketika memandang rendah diri kita
sendiri, sama dengan keledai, maka derajat terendah
adalah derajat yang tertinggi. Abu Yazid Bistami qs
berkata, “Tak seorang pun dapat mencium realitas iman
kecuali dia memandang level egonya lebih buruk
daripada Fir’aun, Namrud, Setan dan Abu Jahal.”

Kita mungkin akan berkata, “Baiklah, Aku terima. Aku
memang seperti itu, egoku yang terburuk.” Tetapi ada
sejumlah ujian untuk itu. Jika ada yang memanggil kita
dengan sebutan, “Hei Keledai!” kemudian kita merasa
geram kepada mereka dan menyahut, “apa!”, berarti kita
telah membuktikan bahwa kita memang keledai. Bihurmati
habib, Al-Fatihah.

Wa min Allah at Tawfiq

11. Hancurkan Dinding Ego Kalian
Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani
Dari buku Melawan Ego

Bismillah hirRohman nirRohim

Armageddon akan terjadi, bukan karena hukuman Allah
SWT; tetapi karena ego kalian, yang tidak pernah puas.
Satu kata dari Rasulullah sallAllahu alaihi wassalam
memperjelas semua situasi sekarang yang kita hadapi,
"Aku berlindung kepada Allah dari pengetahuan yang
tidak membawa manfaat kepada orang yang bersangkutan,
atau bagi kemanusiaan. Aku juga berlindung kepada
Allah dari kejahatan ego yang hanya menginginkan
kesenangan dan kenikmatan fisik, tidak ada yang lain."
Semoga Allah mengampuni kita. Kata-kata doa ini adalah
sesuatu yang penting.

Oleh sebab itu, Rasulullah saw bersabda, "Aku dating
untuk menghilangkan karakteristik buruk ego manusia.
Aku datang untuk menyandangkan kalian dengan kualitas
terbaik, nilai terbaik, pakaian terbaik kalian,
sehingga kalian akan berada di Hadirat Ilahi dengan
Pakaian Ilahi yang terbaik dan paling berharga."

Nilai-nilai tersebut adalah pakaian terbaik bagi
kalian. Jika kalian tidak mengenakan pakaian itu,
kalian akan diusir, karena ego kalian tidak pernah
merasa cukup. Dan Neraka juga akan berkata, "Wahai
Tuhanku, jika ada lebih banyak lagi, Aku mohon agar
mereka dikirimkan kepadaku. Kirimkanlah padaku
orang-orang dengan keinginan egonya, mereka akan
temukan bahwa apa yang mereka inginkan ada pada
levelku."

Setelah Revolusi Perancis, tembok besar yang mencegah
orang untuk bersikap patuh menjadi hancur. Jangan
dikira bahwa itu semua terjadi demikian-bahwa mereka
mendobrak pintu Bastille. Itu adalah peristiwa
simbolik bahwa Setan membuka penjara Bastille untuk
mengeluarkan semua orang yang tidak patuh, yang tidak
pernah menundukkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla.
Dan Kerajaan ini mewakili Kerajaan Allah di bumi.

Dan sebagaimana disebutkan dalam semua Kitab Suci,
bahwa setiap bangsa sejak awal hingga 1789
masing-masing mempunyai seorang Raja, orang-orang
menundukkan kepala kepada mereka, bukannya mengangkat
kepalanya, dan menunduk kepada Raja berarti secara
tidak langsung patuh terhadap Tuhan Pemilik Surga.
Tetapi ketika dinding pemisah antara rakyat dan Raja
dihancurkan, semua orang yang tidak patuh, para
pemberontak, kalajengking dan naga, semua orang liar
yang telah dipenjara keluar.

Juga beberapa filsuf, dan scientist yang bodoh, yang
Atheis dan tidak percaya kepada adanya Tuhan Yang
Mahakuasa. Mereka menulis banyak buku yang mendorong
orang agar orang tidak patuh kepada siapa saja. Apa
yang mereka katakan adalah seperti ketika Allah swt
menciptakan ego kita. Ketika Ego ditanya oleh Allah,
siapakah engkau, maka Ego menjawab,"Engkau adalah
engkau, dan Aku adalah aku," begitu kata ego.

Ego tidak pernah mau menunduk kepada Tuhannya dan
berkata, "Aku adalah hamba-Mu, dan Engkau adalah
Penciptaku, Tuhan Pemilik Surga." Dia tidak pernah mau
menundukkan kepalanya di Hadirat Ilahi, sampai Allah
swt memerintahkannya untuk dikurung dalam api Neraka
yang panas selama 1000 tahun. Tetapi dia tetap tidak
datang dan menunduk. Kemudian dia dipindahkan kedalam
Neraka yang dingin selama 1000 tahun pula, tetapi ego
tetap masih belum mau menunduk kepada Tuhannya. Sampai
ego itu ditempatkan di lembah kelaparan selama 1000
tahun, barulah kemudian dia keluar dan berkata, "Aku
adalah hamba-Mu yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku."
Itulah karakteristik utama dari ego kita-tidak mau
menundukkan kepala di hadapan orang lain.

Jika dia tidak menundukkan kepalanya di hadapan Allah
swt, bagaimana dia manu menundukkan kepala dihadapan
mahluk yang lain. Tidak akan! Demikianlah karena
manusia sekarang tidak menghargai satu sama lain
sebagai ciptaan-ciptaan Tuhan mereka yang unik dan
terkasih, maka merekapun tak mampu untuk bersikap
toleran satu sama lain, apalagi untuk mampu menghargai
mereka atau menjadi lebih akrab dengan mereka.

"Dunia ini tak cukup besar untuk menampung kita
berdua," kata salah seorang kepada yang lainnya,
apalagi satu bangsa atau negara kepada bangsa dan
negara lainnya. Setiap orang berteriak lantang akan
dirinya masing-masing demikian kerasnya untuk menekan
eksistensi yang lain. Dan perilaku semacam ini membuat
orang menjadi demikian berat pula, hingga bumipun
hampir-hampir tak mampu lagi menampung keseluruhan ras
manusia, bukan karena jumlah mereka tapi karena sikap
dan perilaku mereka.

Kita telah mencegah diri kita sendiri dari sikap
menghargai orang lain dan mencari keakraban dengan
mereka. Kita melihat mereka tidak sebagai wakil-wakil
Tuhan kita yang tercinta di muka bumi ini, tapi
sebagai ancaman-ancaman bagi diri kita sendiri. Dan
merekapun, sebagai gantinya, melihat kita sebagai
orang-orang yang berbahaya, dan menarik keakraban
mereka dari diri kita. Karena itulah, sikap liar dan
buas tengah berjangkit dan tumbuh secara cepat pada
manusia, dan dari sifat liar inilah muncul kebekuan,
kebencian dan kedengkian di antara manusia.

Ego dan nafsu rendah kita telah membangun
dinding-dinding di sekeliling kita. Dinding dan tembok
Ego yang tak dapat ditembus. Hancurkanlah lebih dahulu
tembok-tembok Ego kalian itu, agar kalian mampu
menghargai orang lain dan mendekati mereka. Setelah
kalian mampu mengahancurkan dinding Ego itu, maka
kalian akan menemukan bahwa perasaan-perasaan yang
tulus mulai mengalir dari kalbu kalian, dan kemudian
sebagian besar orang akan mulai menunjukkan sikap yang
lebih baik terhadap diri kalian.

Tetapi, jika kalian suka bertengkar dan terkuasai oleh
ego rendah kalian yang buruk dan serakah, maka tak
seorang pun mampu mendekatimu dan kalian pun tak mampu
mendekati seorang pun kecuali dengan kekerasan. Ini
adalah sesuatu yang bersifat timbal balik. Jadi, hal
pertama yang harus diperbaiki adalah dirimu sendiri,
untuk mengendalikan ego/nafsu rendahmu, agar diri
kalian mampu untuk meberikan keakraban yang tulus pada
semua orang. Jika kalian ingin menyelamatkan diri
kalian secara fisik dan spiritual dan selamanya, maka
ikutilah langkah para Awliya. Kita begitu lemah untuk
mengikuti langkah para Nabi dan Rasul, karena
dibutuhkan Iman yang kuat sehingga kalian bisa
berpijak di jalur yang benar dengan mantap. Jika
kalian tidak mempunyai 'qadama sidqin', kalian belum
memiliki langkah yang benar, kalian tidak dapat
melangkah di jalan yang benar, tidak bisa.

Jalan yang benar menuntut langkah yang benar. Langkah
yang benar dilakukan oleh kaki yang benar. Kaki yang
benar adalah milik hati yang benar, jika hati kalian
tidak benar, dia tidak bisa memerintahkan kaki kalian
untuk berpijak dengan benar. Oleh sebab itu
perhatikanlah seseorang yang mempunyai langkah yang
benar, ikutilah mereka. Siapa pun dia, kalian boleh
mengikutinya. Jika tidak, maka kalian akan mengikuti
langkah Setan dan siapa pun yang mengikuti Setan, dia
akhirnya akan sampai ke Neraka.

Wa min Allah at Tawfiq

No comments: